trying to conceive

Dear My Future Baby…

First of all,

I want you to call me Mamoy or Mocil (stands for Momi keCil). Because I want you to call your daddy Papoy (yes, like the minions’ language on Despicable movie).

I was 24 when I marry your daddy and we were dating since around 10 years ago,

I was a young girl and till now still do and I just want to have fun with your daddy.

I said I want us to have many-many-many holidays when he said let’s have and raised a kid soon.

I’m an egocentric bastard. The person I listen to most is my own self. So I suck those fucking  birth control pills since before my wedding day. Thinking that yes, I want a baby, but maybe in 6 months or a year later.

But than your stupid mommy-to-be realize that your (and your sisters and brothers) presence does not mean that me and your daddy could no longer having our honeymoon romance anymore. Your presence means that we are honoured by Allah to have and raise you. Your presence means that there will be more joy in our life, more love in our life, and more fortune in our days.

So your stupid mommy-to-be stopped taking those pills and start to pray. Wishing Allah does not granted my yesterday’s wishes and instead grant today’s one, while me and your daddy start our conceiving program.

I know that some women will need extra effort to could get pregnant, but I never thought that I would be one of them. On our 5th month of marriage, I heard the worst news I ever had. I have those little-annoying-myomas and some obstruction on my right ovary.

Worst news ever. For me. Am I ever gonna meet you someday?

But hey, this is us. Your parent-to-be are a couple of bubbly fighter. We’re not gonna surrender. We’ll try our best. We’ll eat and drink whatever it needs to have you around us. We’ll never stop wishing and praying. We’ll work harder to overcome anything that may come.

So, here we are. On our 6th month of marriage. Keep praying and wishing and swallowing thousands pills. I wish and I know we’ll meet someday. We love the idea of you and we love you even before we met you.

Please come soon.

Longing for your presence,

Mamoy.

Advertisements

Live my life…

A happy morning!

Friday and payday. Yihaa. Tapi entah kenapa setiap baru aja gajian, gue langsung berharap gajian berikutnya (dan bonus) segera dateng hehehe.

*please bonus dong-dong-dong*

*crossing fingers*

Anyway, gue merasa akhir-akhir ini kita (gue dan Abi, terutama gue) udah terlalu tenggelam dalam hal try to conceive ini. Sampe gue kemaren disadarkan oleh satu hal. Yes, I (really-really-really) want a baby right now. Dan hal itu udah ngebuat gue ‘lupa’ akan hal-hal lain yang gue harusnya bisa nikmatin.

Let’s see. Gue dan Abi ‘baru’ 6 bulan nikah. Banyak temen-temen gue yang udah beberapa tahun nikah dan belum dapet rejeki keturunan bisa enjoying their life happily. Walaupun banyak yang nikahnya lebih baru tapi lebih dulu dapet rejeki hamil, they’re still happy. Gue? Ada temen gue yang nikahnya lebih baru dan udah hamidun, gue seneng tapi bertanya-tanya: kok gue belom tapi dia udah?

Gue terlalu terhanyut dengan masalah little-myoma(s) dan penyumbatan gue ini.

Gue lupa rasanya jadi manten anyar. Harusnya gue dan Abi menghabiskan masa-masa ini dengan travelling dan hepi-hepi berdua. Yes, gue tau ada yang salah dengan itu itu bagus banget. Gue mencoba dari awal buat mengobatinya juga bagus banget. Tapi jangan sampe gue dan Abi jadi ngga nikmatin masa-masa awal nikah kita. Itu gue baru sadar.

Gue jadi ‘lupa’ rencana kita buat melancong ke anu-itu-ini. Yang gue inget cuma ini hari ke berapa siklus gue dan kapan gue harus check up ke dokter.

Gue jadi ‘ngga dengerin’ bujuk rayu Abi buat ambil cuti dan kita honeymoon. Yang gue tau cuma gue ngga boleh cuti dan harus ngumpulin banyak duit buat program ini itu.

Selama ini kalo ada yang bilang ‘sante aja, ngga usah ngoyo dan stress kalo belom hamil, nanti malah susah dapetnya’ selalu gue bantah dalem hati. Mana bisa gitu kaga stress, secara gue punya ‘deadline’ 6 buian untuk bisa tekdung. Gue punya bayangan LO yang menghantui gue.

Tapi sekarang yowes, gue mau mencoba ngga (terlalu) mikirin semuanya.

Gue akan tetep kontrol dan berobat ke dokter. Gue akan tetep minum obat dengan rajin. Gue akan tetep (berusaha) matuhin do(s) and don’t(s) nya program gue.

Tapi gue juga akan merencanakan liburan bersama laki gue. Gue akan jalan-jalan sama temen-temen gue. Gue akan melancong ke tempat-tempat yang belum pernah gue datengin. Gue akan kulineran ke tempat-tempat yang mau gue datengin.

So, stop seeing the fuckin* calendar in front of you and just let yourself live your life. Happily.

I hate you, kalender…

Sejak gue mulai konsen untuk conceiving program ini, gue jadi bener-bener ngasih perhatian khusus buat kalender. I mark my first and last period day, my ovulation day (marked by my long–egg-like-mucus), sometimes my body basal temperature, and also our intercourse date, haha. Yah semuanya demi beybih ya akan dilakukan deh.

Gue perhatian banget buat inget hari pertama mens gue. Terus begitu perkiraan gue ovulasi, langsung tancep 2 hari sekali. Terus pastiin tancep juga pas si lendir itu keluar. Terus setelah itu masih tancep 2 hari sekali sampai hari ke-21 siklus.

Tapi yaaaah, setelah hari ke-21 itu gue cenderung bermusuhan sama si kalender. I hate counting days to my next period and wondering whether I’ll get the period or the gift we’ve been longing for. Paling bete kalo udah ada gejala-gejala yang bisa didapet di kehamilan awal dan juga adalah gejala PMS. Emosi labil, nafsu makan labil, penciuman ekstra tajem, badan sering pegel-pegel. Kemudian puncaknya adalah perut kram (biasanya 2 hari menjelang haid) dan keluar flek-flek (1 hari menjelang haid). Karena kan itu juga tanda kehamilan awal, bosss. Mungkin udah pada tau ya tentang implantation bleeding? I always wish that those spots are implantation bleeding, but wishes always turn into disappointment when the bleeding come more intense, hiks.

Sekarang, gue ada di hari ke-25 siklus gue. I’m praying harder than before. Walaupun katanya ngga boleh stress tapi ya mana bisaaa, namapun lagi berharap. Semoga tanda-tanda yang ada berujung kebahagiaan dah, bukan kekecewaan. Amin.

*silang jari tangan dan kaki*

dr. Riska Yurianda, I heart you!

Setelah mengalami pengalaman HSG yang cukup traumatis, ditambah lagi dengan hasil HSG yang ngga terlalu bagus, sore itu gue langsung kontrol ke obgyn gue. Periksa kali ini, gue membawa hasil HSG gue dan sperm analysis Abi. Gue udah booking check up via telepon dan katanya dapet nomer 1. Dr. Riskanya katanya mulai praktek jam 5 sore. Gue dateng jam setengah 5 dan katanya nama gue belum terdaftar.

WHATTTT?

Untung gue langsung nyebutin tanggal lahir gue dan ternyata gue udah terdaftar atas nama OLAF. Padahal gue nyebutin nama gue LARAS. Someone has hearing defect hereee…

Dan ternyata sodara-sodara, gue dapet antrian nomer 6 aja dooong. Gile itu semua orang pada dateng jam berapa sih? Padahal minggu lalu gue dateng jam setengah 6 dan dapet antrian nomer 4. Ngga hoki gue hari ini, huhuhu. Yaudah abis selesei daftar, gue langsung naik ke lantai 2. Pake lift. Ngga kuat kalo harus naik tangga. Padahal kalo biasa juga males sih naik tangga, hahahaha.

Jam 6 gue belum juga dipanggil. Gue udah merasa ngantuk dan teler. Ngga lama Abiku tercinta dateng. Kita nunggu, nunggu, nunggu, dan baru dipanggil hampir jam setengah 8 malem. Zzz. Hampir 3 jam nunggu. Tapi walaupun lama, yang gue suka dari dr. Riska adalah dia teliti kalo meriksa pasien, plus dia juga terlihat tertarik sama cerita pasiennya. Kan ada yah dokter yang kurang merhatiin cerita pasiennya. Walaupun gue juga dokter dan gue ngerti kesibukan dokter, gue kurang suka habit dokter yang macem gitu.

Begitu masuk, gue langsung menyerahkan hasil HSG dan sperm analysis. Dokternya nanya, “sakit ngga di HSG?” yang langsung gue jawab panjang lebar tentang betapa sakitnya HSG buat gue, huhu. Habis itu kita ngebahas hasil-hasil pemeriksaan kita.

Dokternya sungguh so sweet. Dia bilang, “ngga apaaa.. toh cuma satu saluran yang kurang bagus, satunya kan lancar banget. Pembuahan masih bisa banget lewat saluran yang satu. Lagian kan sperma itu cerdas, dia dari saluran kiri bisa merambat sampe ke saluran kanan terus ngebuahin telor yang di kanan deh.”

It really means a lot to me.

Di saat gue lagi down dan merasa ngga sempurna, denger kata-kata gitu rasanya sejukkk banget. Gue semakin optimis kalo gue bisa hamil. Pasti bisa!

Dokternya juga ngebahas hasil sperm analysis Abi. Dia juga bilang kalo teratoozospermia itu bukan masalah yang terlalu berat dan jarang di cowo. Bisa diobatin kok biar meningkatkan kualitasnya.

Gue kemudian di USG TV (lagiiiiii) untuk ngelihat gimana telur-telurku. Alhamdulillah, dia perbesarannya normal. Ukuran 11 mm di hari ke-9. Semoga bisa maksimal di hari ke-14 dan masa subur. Alhamdulillah lagi telur yang gendut ada beberapa, di indung telur kanan dan kiri. Tinggal berdoa semoga telur gendutku dan kodok Abi bisa dipertemukan segera, hahaha.

Yah walaupun dr. Riska menyemangati, dia juga bilang kalau dalam 6 bulan ke depan (yang mana gue dan Abi akan minum obat) gue belum bisa hamil, gue disarankan untuk laparoskopi. Membuang si myoma dan apapun yang bikin perlengketan. Yah semoga sih perlengketannya itu infeksi ringan aja, atau spasm karena gue terlalu tegang waktu HSG.

Sekarang tinggal banyak-banyak doa, plusssss mari pulang ke rumah karena ini sudah mau masuk masa syuburkuuuu. Ngga boleh kecapean, hahaha.

Wish us luck!

H+1 HSG…

Proudly saying that I’m blogging at my office today!

Sakit yang gue rasain waktu pemeriksaan HSG kemaren adalah sakit tersakit yang pernah gue rasain seumur hidup. Katanya sakit tersakitnya perempuan adalah waktu ngelahirin, tapi secara gue belum pernah ngelahirin, jadi ya belom tau rasanya.

Setelah HSG kemaren, gue langsung minum obat-obatan penolong macem panadol extram, cimetidine, sama buscopan. Ngga lama rasa sakit mulai kabur dan gue bisa berdiri dengan gagah. Tapi beberapa jam setelah minum obat, efeknya mulai menghilang. Sakitnya mulai balik lagi walaupun jauh lebih bearable. Yahh, mirip-mirip sama dysmenorrhea laah.

Tentang perdarahannya, gue sempet ngeri dan antisipasi kalo abis HSG gue akan bleeding cukup hebat. Too much googling will kill you, itu bener banget. Gue sempet kemakan sama beberapa tulisan yang bilang kalo abis HSG dia perdarahan lumayan hebat selama beberapa hari. Alhamdulillah, gue habis HSG cuma flek-flek cokelat muda aja. Sore abis mandi ganti pembalut dan sampe paginya ngga keluar lagi fleknya.

Memang sih, efek HSG di setiap orang beda. Ada yang bilang sakit banget, ada yang sampe pingsan dan shock, ada yang malah ngga ngerasa apa-apa *colek Mba Mita di depan meja*. Buat gue, gue mengalami sakitnya tapi Alhamdulillah perdarahan gue bisa dibilang super ringan sehingga…..semoga malem ini bisa bercocok tanam, hihihi.

Pengalaman HSG-ku

Hysterosalpingography (HSG) is a radiologic procedure to investigate the shape of the uterine cavity and the shape and patency of the fallopian tubes. It entails the injection of a radio-opaque material into the cervical canal and usually fluoroscopy with image intensification. A normal result shows the filling of the uterine cavity and the bilateral filling of the fallopian tube with the injection material. To demonstrate tubal rupture, spillage of the material into the peritoneal cavity needs to be observed. A synonym to hysterosalpingography is uterosalpingography

Begitulah sekilas tentang HSG menurut wikipedia yang kurang lebih benerlah menurut gue *ngga ambil pusing*.

Pagi ini, gue memulai Senin dengan semangat. Pagi ini, jam 9, gue direncanakan untuk HSG. Slogan ‘too much googling will kill you’ kayanya bener. Terlalu banyak yang bilang kalo HSG itu sakit, pake banget. Gue langsung tutup browser gue. Nyalain musik. Pake headset. Menenangkan diri.

Pagi ini, Abi udah izin masuk rada siang ke kantor. Jadi dia bisa nemenin gue HSG. Walaupun gue pede kalo InsyaAllah gue ngga akan kenapa-kenapa, tapi Abi tetep khawatir gue kenapa-kenapa.

Pagi ini, gue udah sounding ke kantor kalo gue izin sakit. Ke Mba Mita dan Nurul yang udah gue ceritain semuanya, gue minta doanya. Mereka ngedoain supaya semuanya lancar. Amin.

Pagi ini, gue berangkat ke Bunda dengan senyum ceria walaupun suami tersayangku tampak tegang. Begitu sampe ke RSIA Bunda ternyata gue salah tempat, radiologi ada di RSU Bunda, hahaha. Nyampe radiologi juga masih senyum-senyum sante. Berusaha supaya ngga tegang, katanya kalo tegang malah tambah sakit.

Gue dapet nomer urut pertama. Radiologi masih kosong pagi itu. Abis ngurus administrasi gue kembali duduk nunggu dipanggil. Abi? Tampangnya tegang, dan sepertinya berdoa. Everything gonna be just fine, baby…

“Nyonya Laras!”

Gue pun dipanggil. Gue masuk dengan gagah ke ruang pemeriksaan ya ampun-ampunan dinginnyaaaa. Gue diminta lepas semua kecuali beha sama susternya. Pake kimono motif batik, dan baring di atas meja periksa. Gue inget waktu gue koass. Betapa gue berkali-kali jadi operator tindakan, sekarang gue jadi pasien. Gue dijelasin prosedur singkat sama susternya. Gue masih cengengesan menyemangati diri sendiri. Everything gonna be just fine, yas…

Mulai gue disuruh posisi litotomy, gue mulai berasa ngga nyaman. Secara ya, gue bukan orang yang lentur. Posisi ngangkang begitu buat gue ngga nyaman. Ngga lama seorang dokter perempuan masuk, mengenalkan namanya. Gue pernah nemu di suatu blog tentang pengalaman kurang menyenangkan HSG di Bunda Menteng. Katanya dokternya galak, emang sih rada jutek, tapi marilah berpositif thinking. Pikiran jelek ngga akan membantu gue buat relax.

“Proses ini sakit ya!”

Dari awal ucapan dokternya ngga menghibur, dan gue bilang itu, dan dokternya bilang mending jujur daripada boong. Yowes. Gue masih mencoba santai walau mulai tegang dan ngga nyaman.

Proses pemasangan cocor bebek dimulai, ngga sesakit yang gue antisipasi. Apalagi waktu liang vagina gue dibersihin, dingin, asikkk, hehe. Dokternya juga bilang liang vagina gue dalem, dia masukin semua jari juga belom sampe ujung. Hoho.

Kemudian mulailah proses yang ngga enak: masukin kateter. Di sini gue refleks ngangkat pantat gue. Bukan mau gue, namapun refleks. Tapi dokternya makin galak, huhu. Kateter masuk, kemudian mulai proses paling ngga enak: gembungin kateter. Di sinilah gue merasa mules yang semulesmulesnya mules. Astagfirullahaladzim. Gue pun semakin tegang. Walau berkali-kali dokternya bilang jangan tegang, kalo tegang malah makin sakit. Tapi ngga bisaaa. Namanya juga refleks. I’m trying, you know.

Singkat cerita, prosesnya cukup membuat kesakitan. Gue ngga akan cerita lebih dalem. Takut bikin orang lain ngeri. Abis itu gue merasa super lemes. Tapi lebih lemes begitu denger dokternya bilang kalo kontras cuma bisa lewat tuba kiri, tuba kanan total blockage.

Dunia gue berasa hancur lebur.

Ya Allah, kenapa harus saya?

Kenapa gue ngga bisa langsung hamil kaya orang-orang lain? Kenapa gue harus melewati semua ini? Kenapa gue ngga bisa segera hamil dan jadi kebahagiaan suami dan orangtua gue.

Onderdil sakit. Hatipun sakit. Enough said.

Apapun yang dokternya bilang, gue ngga terlalu nangkep. I’ve heard enough for today. Yang gue inget, gue cuma minta AC dikecilin karena gue makin mual dan mules kalo dingin. Tapi dokternya bilang kalo ngga dingin, alat-alat mereka bisa rusak. Oh gitu yah.

Setelah ganti baju dan berdiri dengan susah payah, gue keluar ruangan, menemukan suami gue dengan tampang tegang dan khawatir. Mungkin penampakan gue sangat hancur dan kepayahan. Dia bilang dia bakal bawa mobil ke depan, gue iyain dan gue duduk di kursi. Selepas perginya Abi, gue duduk dengan posisi aneh, baring di kursi dengan kaki diangkat, terus dilipat. Posisi apapun deh yang terenak yang penting ngga terlalu sakit. Ngga berhasil. Masih sakit. Di udara super dingin itu, gue keluar keringat dingin. Mules, mual, ngga enak pokoknya, ngga bisa gue ungkapin. Gue kemudian minta teh anget. Gue juga dikasih ranitidine. Gue minum ranitidine 1 tablet, panadol ekstra 2 tablet, buscopan 2 tablet. Panadol dan buscopan gue bawa sendiri. Abis itu, Alhamdulillah, gue bisa berdiri tegak. Begitu Abi dateng, dia udah tampak lega karena liat istrinya udah lincah.

Abis pembayaran (abis Rp.1,05 juta), gue insist mau anter Abi ke kantor, tapi Abi insist gue harus langsung pulang. Yowes, nurut suami. Sesampainya di rumah gue langsung baring, minta si Mba digorengin cireng, abis pengen ngemil, lalu bedrest ampe sekarang nulis-nulis blog. Rasa sakit masih ada, walau ngga heboh. Sakitnya lebih ke khawatir tentang kemungkinan gue untuk punya anak.

Mba Mita whatsapp gue jam 12 siang. Gue cerita semuanya. Dia hibur gue, mungkin aja gue begitu tegang sehingga tuba gue spasm. Gue masih positive thinking. Gue berharap. Gue berharap pada tuba kiri gue yang katanya Alhamdulillah lancar jaya tanpa hambatan. InsyaAllah kemungkinan untuk bisa hamil sangat besar. Yang bisa gue lakuin sekarang cuma bisa pasrah, usaha dan doa tanpa putus. Allah pasti akan memberikan buah dari usaha gue, InsyaAllah. Gue tekadin akan lakuin apapun untuk bisa hamil, Bismillah.

Gue juga udah buat janji sore ini jam 5 sama dr. Riska untuk konsultasi hasil HSG gue dan sperm analysis Abi. Ohya, hasil sperm analysisnya, para kodoknya geraknya cepet, tapi bentuknya kurang oke. Ngga apa, bukan hal yang ngga biasa. Yang penting sekarang gue dan Abi selalu saling sayang dan saling dukung. Gue ada buat dia, dia ada buat gue. Enough for now.

Semoga konsultasi sore ini bisa menghibur hati gue yang remuk redam. Ohya, habis HSG gue ada flek sedikit. Saat ini sih ngga merah, coklat mudaa banget, mungkin darah campur cairan kontras.

I’ll smell you later, fellas! Pray for me!

*finger crossed*

Trying to conceive: 6th month, September 2014

Bulan penuh harap buat gue.

Karena gue udah dapet obat dari obgyn, harapan gue kembali terpupuk. Harapan gue mulai timbul saat lendir cervix yang gue tunggu-tunggu akhirnya datang di hari ke-14 siklus gue. Subhanallah! Alhamdulillah! Lendir itu ada waktu gue dan Abi lagi di stasiun kereta Bandara Kualanamu, ada nikahan temen gue di Medan, dan kita mau sekalian honeymoon lagi. Hihi, honeymoon muluuuuu. Lendir itu dateng siang, sorenya semakin kentel dan banyak. Selamat datang, masa suburkuuuu!

Hari itu dan besoknya, kita bercocok tanam dengan super giat, hahaha. Makanpun tidak terkontrol, semuanya dimakan. Tapi mungkin emang gue rada terlalu capek sih. Sabtu pagi berangkat ke Medan. Minggu malem sampe rumah. Senen pagi balik ngantor. But, I’m happy. Lendirku telah datang.

Di bulan ini gue kembali mengalami rasa cape luar biasa, mual walaupun ngga pengen muntah, gampang pusing dan keliyengan, dan anehnya gue ngga doyan makan. Everyone know that I’m a true omnivore. Dalem arti gue doyan hampir semua jenis makanan dan sekali makan gue bisa abis banyak banget. Jadi begitu gue turun nafsu makannya, gue berharap dong. Apalagi gue mengalami gejala baru. Gatel yang sumprit gatel buangetsssss. Gue emang punya alergi cukup parah. Terutama setelah nikah dan tinggal di Jakarta. Kayanya ngga cocok sama udaranya yang panas (dibanding di Bogor). Makanya gue sering gatel parah, kaya kaligata, seluruh tubuh, merah-merah parah. Biasanya sih kalo alergi kumat gue tanpa pikir panjang langsung telen cetirizine. Tapi di bulan ini, bulan penuh harap gue, gue ngga mau minum obat. No! Lebih baik gue gatel aja deh. Siapatau jadi kan bayikuuu?

Gue juga googling (of course) tentang gatal-gatal ini. Hasilnya ada banyak yang bilang kalo gatel-gatel yang hebat menjelang waktu mens dateng bisa jadi pregnancy hives karena badan kita mendeteksi ada hal baru yang tumbuh di kita. Gue? Seneng bukan kepalang. Kalo gatel gue pertanda ada baby di dalem kandungan gue, gue rela. Gue rela gatel seluruh tubuh sampe ngga bisa tidur. Gue rela ngga minum cetirizine. Rela pokoknya!

Tapi sayangnya juga, ada beberapa artikel yang bilang kalo gatel-gatel itu bisa jadi pre-menstrual hives yang mana timbul akibat lonjakan hormon menjelang menstruasi. Please, yang bener pregnancy hives aja bisa tidaaaak?

Tapi ternyata, Allah belum menitipkan amanah itu di kita. Hari ke-30, gue menstruasi, awalnya flek doang. Sore hari gue merasa ngga enak perutnya, ternyata flek. Gue masih geer itu adalah implantation bleeding karena sampe malem kaga keluar lagi darahnya. Cuma flek tadi sore doang. Tapi, begitu malem darah semakin banyak. Pupus lagi.

Bulan-bulan lalu saat mens mulai gue masih tegar. Bulan ini? Mungkin karena si lendir cervix telah datang, harapan gue tinggi, dan begitu gagal rasanya sakit banget. Gue nangis. Kaya bocah. Sesunggukan. Sampe buat Abi khawatir. Tapi suami gue amat sangat yahud. Dia ngehibur gue, dengan masakin steak….yang rada kekerasan, huahahaha. Tapi di situ gue merasa gue menikah dengan orang yang sangat sayang sama gue. Alhamdulillah.

Karena hari pertama mens gue adalah hari Minggu dan ngga ada obgyn yang praktek, maka gue baru buat janji sama obgyn di hari Senin. Kali ini gue buat janji di RSIA Bunda Menteng. Karena Abi pengennya gue dipegang sama dokter cewek aja, yowes, buat gue ngga masalah. Gue pun buat janji sama dr. Riska, Sp.OG di RSIA Bunda Menteng.

Sorenya gue ke Bunda. Dapet nomer antrian 4. Antri setengah jam lebih kemudian masuk. Yang gue seneng dari obgyn ini adalah orangnya detail dan ngga sinis sama usia pernikahan gue yang masih seumur jagung. Dia nanya-nanya dengan detail dan sabar, sampe ke tentang Abi, apa dia ngerokok, habitnya, dll. Sampe pada akhirnya gue harus USG TV (lagi!!). Tusukan pertama (huahahah) ternyata kandung kemih gue penuh banget jadi nutupin penglihatan, gue jadi harus pipis dulu. Setelah itu tusukan kedua, untungnya dr. Riska lembut, tusukan si lampu neon ngga sesakit yang udah gue antisipasi.

Tapi….

Hasil dari USG yang membuat gue sakit.

Dr. Riska yang begitu teliti menemukan myoma di rahim gue. Tepatnya multipe myoma. 3 biji, ukurannya kecil, sekitar 0.8 cm.

What. Gue mau nangis saat itu juga.

Bulan lalu gue USG TV bersih kokkk, makanya gue super pede. Kok begini???

Karena cukup shock gue ngga terlalu dengerin penjelasan dr. Riska. Gue cukup tau tentang myoma. Yang gue tangkep adalah myoma dipengaruhi hormon, bisa tumbuh dipicu stress. Yang gue tangkep adalah next step-nya. Di mana gue harus periksa HSG dan Abi harus periksa sperm analysis.

HSG itu kan sakitttttt????

Tapi ya demi punya baby, gue udah niat apapun akan gue lakuin. Meski begitu, hati gue tetep hancur. Senin malem itu, gue pulang dengan hati yang patah berkali-kali lipat dibanding biasanya. Begitu parkir di garasi gue nangis dalem mobil. Begitu gue sampe kamar, gue kembali nangis. Gue ngebuat Abi khawatir. Tapi ya gimana? Perasaan gue hancur lebur waktu itu.

Gue dulu selalu mikir, begitu nikah gue akan langsung hamil. Segala penyakit reproduksi wanita ngga akan gue alami. Tapi Allah berkata lain. Gue mungkin harus diuji dulu. Gue mungkin harus diingatkan kalo ada hal yang di luar kuasa gue. Ada hal yang harus gue perjuangin lebih keras dari perjuangan biasa gue. Ada hal yang pada akhirnya harus dikembalikan ke takdir.

Malam itu gue nangis sampe mata dan muka gue bengkak. Gue akhirnya bisa menenangkan diri dan cerita ke Abi. Gue tau dia kaget. Gue tau dia sedih. Tapi dia tetep meluk dan nenangin gue. Dia juga sami mawon kaya gue, juga langsung googling. Apa itu myoma. Apa yang bisa kita lakuin. Apa komplikasinya, dst.

Gue mulai terpikir hal-hal jelek.

Gimana kalo sampe (amit-amit) gue ngga bisa ngasih dia keturunan. Gue takut ditinggal, atau lebih parah lagi, dipoligami. Hahaha. Silly thought. Pemikiran yang kejauhan. Gue pun bilang sama dia, gue pengen bikin perjanjian, kalo suatu saat dia pengen keturunan dan gue belum bisa ngasih dan dia pengen nikah lagi, leave me. Jangan poligami gue. Ceraikan gue. Karena gue ngga akan sanggup berbagi dia. I better being left dan kemudian memulai hidup baru sendirian. Gue ngga akan sanggup berbagi orang yang paling gue sayangi.

Abi kembali nenangin gue. Dia bilang dia pengen hidup sama gue, dan kalo ternyata harus berdua doang, dia akan terima. Sejujurnya gue tau dia sangat sayang gue. Tapi sejujurnya juga, gue takut kalo itu cuma omongan saat ini aja. Who knows apa yang akan terjadi 5 atau 10 tahun lagi? Wallahualam.

Lalu apa yang akan gue lakukan?

Gue buat janji untuk HSG Senin depan di Bunda. HSG harus dilakukan hari ke-9 dari siklus, maksimal hari ke-12. HSG ini juga harus dilakukan di jam kerja, which means, gue harus izin dari kantor. Ngga apa. Gue udah niat ikhtiar. InsyaAllah dimudahkan semuanya, walaupun sedih juga ngga dapet tunjangan kerajinan dan dipotong uang makan, huahahaha, becandaaaaa.

So, pray for me. Eh, for us ding. Suami gantengku juga udah setuju untuk sperm analysis. Ini ikhtiar berdua, InsyaAllah kita bisa ya, Love.

*peluk Abi*