talking about adat

Prosesi Adat Jawa: Akad Nikah dan Upacara Panggih

Akhirnyoooo.

Yang terakhir dari sesi prosesi adat Jawa!

 

AKAD NIKAH

Prosesi:

  • CPP datang ke lokasi dengan diapit pini sepuh
  • Wakil keluarga CPP menyerahkan CPP ke wakil keluarga CPW
  • CPP memasuki area ijab kabul diapit oleh pini sepuh keluarga CPW
  • CPP duduk dan melepas rencong
  • Pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan Tilawah
  • Mukadimah penghulu
  • Ijab Kabul
  • Pembacaan taklik
  • Penandatanganan buku nikah
  • Pembacaan doa
  • Penyerahan mas kawin dari CPP ke Bapak CPW untuk disampaikan ke CPW
  • Bedol/tukar kembar mayang

386742_10151351673043970_301793854_n CPP memasuki area akad nikah

akad1

Ijab Kabul

UPACARA PANGGIH

Prosesi:

  • Balangan gantal: prosesi masuknya mempelai wanita (MW) dan kemudian MW dan mempelai pria (MP) saling melempar gantalan
  • Mecah wiji dadi/telur ayam oleh CPP dan kemudian MW mencuci kaki MP
  • Sindur Banayung: Ibu MW menyelimuti MW dan MP dengan kain sindur kemudian Bapak MW akan menuntun MW dan MP ke arah pelaminan dengan memegang kain sindur, sementara Ibu MW menyokong dari belakang
  • Timbangan: MW dan MP masing-masing akan duduk di paha Bapak MW dan kemudian Ibu MW akan bertanya: ABOT ENDI, PAK? Kemudian Bapak MW akan menjawab: PODO ABOTE, BU.
  • Kacar-kucur: MP akan menuangkan kacar-kucur kepada MW
  • Ngunjuk rujak degan: Bapak dan Ibu MW meminum masing-masing tiga sendok
  • Dulangan: MW dan MP saling mendulang Nasi Punar/Temanten
  • Besan martuwi/tilik pitik: datangnya rombongan MP yang disambut oleh Bapak dan Ibu MW
  • Rasuk kalpiko: pemasangan cincin kawin
  • Ngabekten/sungkeman: sungkeman dimulai dari orangtua MW kemudian baru ke orangtua MP. Saat sungkeman selop dan rencong harus dilepas
  • Tumplak punjen: menumpahkan punjen dan kemudian melakukan saweran
  • Bubak kawah: pemikulan bubak kawah, kemudian penengokan bubak kawah oleh MW dan MP dan selanjutnya bubak kawah diperebutkan oleh hadirin

 

Makna:

– Makna dari Upacara Balangan Gantal :

Mengandung arti suatu peristiwa yang sekilas namun tidak dapat diulangi lagi.

– Makna dari Upacara Mecah Wiji Dadi :

Mengandung makna bahwa yang dijodohkan bisa mempunyai keturunan. Wiji Dadi atau telur ayam melambangkan manunggalnya pria dan wanita seperti pecahnya telur berupa putih dan merah. Putih menggambarkan pria dan merah menggambarkan wanita.

– Makna dari Sinduran :

Maksudnya kedua orangtua memberikan ‘panjurung donga pangestu’ kepada kedua anaknya.

– Makna Upacara Timbangan :

Mengandung makna bahwa antara anak sendiri dengan anak menantu bagi orangtua tidak ada bedanya.

– Makna Upacara Minum Kelapa Muda :

Bermakna membersihkan dan menyegarkan tubuh serta jiwa.

– Makna Upacara Kacar Kucur :

Merupakan simbol tanggung jawab pengantin pria untuk menafkahi keluarganya.

– Makna Upacara Dulangan :

Tata cara ini melambangkan cumbuna atau saling bercumbu rayu dan saling memadu kasih.

– Makna Upacara Ngabekten :

Ngabekten merupakan prosesi untuk menunjukkan bakti kedua pengantin kepada orang tuanya.

270321_10151351673048970_486536008_n

mempelai wanita diapit pini sepuh

321052_10151351673168970_1090485129_n

sungkeman

A-khir-nyaaaa.

Selesai juga semuanyaaaa. Semua tulisan tentang prosesi adat Jawa maksudnyaaa. Apakah gue akan ngikutin semua? Mbuhlah. Liat nanti deh, hahaha. Tapi rasanya seneng kok kalo ngejalanin itu semua. Secara (Insya Allah) ini adalah pengalaman sekali seumur hidup jadi harus seberkesan mungkin dan pengennya selengkap mungkin. Nyenengin para orang tua juga kaan?

Makasih sekali lagi ya Mbak Anggi (http://lovejournal.widjanarti.com/) .. Hoho

 

Prosesi Adat Jawa: Malam Midodareni

Masih aja lanjut ya cyinnn…

MALAM MIDODARENI

Prosesi:

  • CPP dan keluarga tiba di kediaman CPW dan disambut oleh Bapak dan Ibu CPW
  • Pembukaan oleh MC
  • Pembacaan doa
  • Penyampaian maksud kedatangan oleh wakil keluarga CPP
  • Pidato penyambutan oleh wakil keluarga CPW
  • Perkenalan keluarga CPP
  • Perkenalan keluarga CPW
  • Tantingan
  • Penyerahan seserahan
  • Pemberian catur wedha
  • Santap malam
  • Pemberian angsul-angsul

Makna:

Malam menjelang dilaksanakan ijab dan panggih disebut malam midodareni. Midodareni berasal dari kata widodari. Masyarakat Jawa tradisional percaya bahwa pada malam tersebut, para bidadari dari kayangan akan turun ke bumi dan bertandang ke kediaman calon pengantin wanita, untuk menyempurnakan dan mempercantik pengantin wanita

Prosesi yang dilaksanakan pada malam midodareni :

  1. Jonggolan

Datanganya calon pengantin pria ke tempat calon mertua. ‘Njonggol’ diartikan sebagai menampakkan diri. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa dirinya dalam keadaan sehat dan selamat, dan hatinya telah mantap untuk menikahi putri mereka. Selama berada di rumah calon pengantin wanita, calon pengantin pria menunggu di beranda dan hanya disuguhi air putih.

  1. Tantingan

Kedua orangtua mendatangi calon pengantin wanita di dalam kamar, menanyakan kemantapan hatinya untuk berumah tangga. Maka calon pengantin wanita akan menyatakan ikhlas menyerahkan sepenuhnya kepada orangtua, tetapi mengajukan permintaan kepada sang ayah untuk mencarikan ‘kembar mayang’ sebagai syarat perkawinan

  1. Turunnya Kembar Mayang

Turunnya kembar mayang merupakan saat sepasang kembar mayang dibuat. Kembar mayang ini milik para dewa yang menjadi persyaratan, yaitu sebagai sarana calon pengantin perempuan berumah tangga. Dalam kepercayaan Jawa, kembar mayang hanya dipinjam dari dewa, sehingga apabila sudah selesai dikembalikan lagi ke bumi atau dilabuh melalui air. Dua kembar mayang tersebut dinamakan Dewandaru dan Kalpandaru. Dewandaru mempunyai arti wahyu pengayoman. Maknanya adalah agar pengantin pria dapat memberikan pengayoman lahir batin kepada keluarganya. Sedangkan Kalpandaru, berasal dari kata kalpa yang artinya langgeng dan daru yang berarti wahyu. Maksudnya adalah wahyu kelanggengan, yaitu agar kehidupan rumah tangga dapat abadi selamanya.

  1. Wilujengan Majemukan

Wilujengan Majemukan adalah silaturahmi antara keluarga calon pengantin pria dan wanita yang bermakna kerelaan kedua pihak untuk saling berbesanan. Selanjutnya ibu calon pengantin wanita menyerahkan angsul-angsul atau oleh-oleh berupa makanan untuk dibawa pulang, orang tua calon pengantin wanita memberikan kepada calon pengantin pria :

  • Kancing gelung : seperangkat pakaian untuk dikenakan pada upacara panggih
  • Sebuah pusaka berbentuk dhuwung atau keris, yang bermakna untuk melindungi keluarganya kelak.

Prosesi Adat Jawa: Siraman dan Dodol Dawet

Masih tentang prosesi adat Jawa yaa, nyambung dari post kemaren…

SIRAMAN

Prosesi:

  • persiapan peralatan dan para penyiram (pini sepuh)
  • pencampuran air siraman (Tirto Perwitosari)
  • pembukaan dan doa
  • pengiriman air siraman ke tempat CPP
  • sungkeman CPW kepada Bapak dan Ibu
  • CPW menuju tempat siraman diapit Bapak dan Ibu serta diiringi para pini sepuh
  • siraman dimulai oleh Bapak dan Ibu CPW, kemudian dilanjutkan oleh para pini sepuh (jumlahnya ganjil yaa)
  • Bapak CPW memegang kendil dan menuangkan air untuk CPW berwudhu
  • Ibu CPW memecah kendil sambil berkata: NIAT INGSUN ORA MECAH KENDI, NANGING MECAH PAMORE ANAKKU
  • potong rikmo
  • bopongan
  • CPW digendong Bapak CPW menuju kamar dengen diiringi para pini sepuh

 

Makna:

Siraman dilaksanakan untuk menyucikan diri dan juga membuang segala kejelekan Calon Pengantin yang ada, agar calon pengantin dapat memulai hidup baru dengan hati yang bersih dan suci. Siraman dilakukan oleh 9 orang sesepuh termasuk sang Ayah. Jumlah sembilan tersebut menurut budaya Keraton Surakarta untuk mengenang keluhuran Wali Sanga, yang bermakna manunggalnya Jawa dengan Islam. Selain itu angka sembilan juga bermakna ’babahan hawa sanga’ yang harus dikendalikan.

siraman

prosesi siraman

DODOL DAWET

Prosesi:

  • Bapak CPW menjual dawet dan para hadirin membeli dawet dengan kreweng wingko
  • Bapak CPW memberikan kreweng wingko hasil penjualan dawet ke Ibu CPW

 

Makna:

Dodol Dawet diambil makna dari cendol yang berbentuk bundar merupakan lambang kebulatan kehendak orang tua untuk menjodohkan anak. Bagi orang yang akan membeli dawet tersebut harus membayar dengan ’kreweng’ (pecahan genting) bukan dengan uang. Hal itu menunjukkan bahwa kehidupan manusia berasal dari bumi. Yang melayani pembeli adalah ibu sedangkan yang menerima pembayaran adalah bapak. Hal ini mengajarkan kepada anak mereka yang akan menikah tentang bagaimana mencari nafkah sebagai suami istri, harus saling membantu.

dodol dawet

upacara dodol dawet

Masih dikutip dari blognya Mbak Anggi (http://lovejournal.widjanarti.com/) dan masih akan berlanjut ke post berikutnya.

Huahahaha.

Prosesi Adat Jawa: Pemasangan Bleketepe dan Tuwuhan

Post kali ini kayanya bakal agak panjang dan sambung-menyambung. Di sini gue akan nulis prosesi-prosesi buat acar pra-nikah dan nikahan adat Jawa. Kalo bolong atau salah di sana-sini ya maklum yaa. Maklum Jawa palsu maksudnya, hihi.

PEMASANGAN BLEKETEPE DAN TUWUHAN

– Prosesi:

  • Bapak CPW naik ke atas tangga dan Ibu CPW menyampaikan bleketepe dan bambu
  • Setelah bleketepe terpasang, dilanjutkan dengan pemasangan tuwuhan di depan pintu masuk rumah

– Makna:

Merupakan tradisi membuat ’blaketepe’ atau anyaman daun kelapa untuk dijadikan atap atau peneduh resepsi manton. Tatacara ini mengambil ’wewarah’ atau ajaran Ki Ageng Tarub, salah satu leluhur raja-raja Mataram. Saat mempunyai hajat menikahkan anaknya Dewi Nawangsih dengan Raden Bondan Kejawan, Ki Ageng membuat peneduh dari anyaman daun kelapa. Hal itu dilakukan karena rumah Ki Ageng yang kecil tidak dapat memuat semua tamu, sehingga tamu yang diluar rumah diteduhi dengan payon daun kelapa itu. Dengan diberi ’payon’ itu ruang yang dipergunakan untuk para tamu Agung menjadi luas dan menampung seluruh tamu. Kemudian payon dari daun kelapa itu disebut ’tarub’, berasal dari nama orang uang pertama membuatnya.

Tatacara memasang tarub adalah bapak naik tangga sedangkan ibu memgangi tangga sambil membantu memberikan ’blaketepe’ (anyaman daun kepala). Tatacara ini menjadi perlambang gotong royong kedua orang tua yang menjadi pengayom keluarga

Tuwuhan mengandung arti suatu harapan kepada anak uang dijodohkan dapat memperoleh keturunan, untuk melangsungkan sejarah keluarga .

Tuwuhan terdiri dari :

  • Pohon pisang raja yang buahnya sudah masak

Maksud dipilih pisang yang sudah masak adalah diharapkan pasangan yang akan menikah telah memiliki pemikiran dewasa atau telah masak. Sedangkan pisang raja mempunyai makna pengharapan agar pasangan yang akan dinikahkan kelak mempunyai kemakmuran, kemuliaan dan kehormatan seperti raja.

  •  Tebu wulung

Tebu wulung berwarna merah tua sebagai gambaran tuk-ing memanis atau sumber rasa manis. Hal ini melambangkan kehidupan yang serba enak. Sedangkan makna wulung bagi orang Jawa berarti sepuh atau tua. Setelah memasuki jenjang perkawinan, diharapkan kedua mempelai mempunyai jiwa sepuh yang selalu bertindak dengan ’kewicaksanaan’ atau kebijakan

  •  Cengkir Gadhing

Merupakan simbol dari kandungan tempat jabang bayi atau lambang keturunan

  •  Daun randu dan pari sewuli

Randu melambangkan sandang, sedangkan pari melambangkan pangan. Sehingga hal itu bermakna agar kedua mempelai selalu tercukupi sandang dan pangannya.

  •  Godhong apa-apa (bermacam-macam dedaunan)

Seperti daun beringin yang melambangkan pengayoman, rumput alang-alang dengan harapan terbebas dari segala halangan.

bleketepepemasangan bleketepe

tuwuhan

tuwuhan

Ohya, ini sumber artikel prosesi adat gue kutip dari blog persiapan nikahnya Mba Anggi yaa. Alamatnya http://lovejournal.widjanarti.com/ . Sungguh super membantu terutama buat yang mau pake adat Jawa. Bahkan gue udah sering buka dari jaman belum fix mau nikah, hahaha. Makasih infonya ya Mba Anggiiiii…

to be continued….