daily inspiration

Friends with Kids

friends-with-kids-2

Sekian lama gue punya film ini di hard disk, baru sekarang gue bisa nontonnya. Soalnya kan film ini BluRay dan BenQ gue kayanya sudah terlalu lemah buat muter film gede. Nonton di TV? Kok film ini ngga ke-detect ya? Padahal film lainnya bisa kok ke-detect.

Anyway, film ini menceritakan sepasang sahabat cewe dan cowo bernama Jason dan Julie. Mereka udah belasan tahun bertemen deket berdua dan juga sama beberapa sahabatnya yang lain, Leslie, Alex, Missy, dan Ben. Leslie-Alex dan Missy-Ben are happy married couples. Were happy married couple, to be exact…sampai mereka punya anak dan kehidupan mereka berubah. Their life lost it’s spark and fun. Intinya kehidupan mereka pusatnya ya di anak-anaknya dan selain itu hampir nol besar. Jason dan Julie sama-sama pengen punya anak, terutama Julie yang umurnya memang lebih tua dibanding Jason. Mereka pengen punya anak tapi belum ketemu orang yang tepat dan begitu liat para temen mereka, mereka jadi sedikit takut sama pernikahan. Mereka mau punya anak tanpa harus diribetin sama tetek bengeknya kehidupan pernikahan. Intinya sih gitu.

Kemudian mereka mencetuskan ‘ide cerdas’ untuk having a kid together. Dengan bayangan mereka adalah sahabat sekian lama, saling ngerti, saling peduli, dan ngga ada rasa lebih di antara mereka. Both love or physically attract. Mereka ngerasa cukup aman buat lakuin ide itu. Waktu bilang ke para sahabat mereka yang lain sih pada mendukung di depan biarpun pada ngeraguin di belakang.

Long story shorted, Jason dan Julie akhirnya berhasil punya anak. A very cute baby boy, named Joe. Awalnya mereka bener-bener kompak dan sangat megang komitmen. Mereka kelihatan happy dan enjoy sama peran mereka sebagai orang tua. Mereka juga ngga keliatan keteteran dan itu yang ngebuat para sahabatnya heran.

Masalah mulai muncul waktu Jason mulai jatuh cinta sama cewe lain, namanya Mary Jane. Megan Fox boook, siapa yang kaga naksir? Hahaha. Ya terus si Julie awalnya ngerasa cemburu dan takut kehilangan Jason, tapi lama-lama dia mulai terbiasa bahkan dia juga akhirnya mulai kencan sama Kurt, a divorcee with kids. Di situ keliatan semuanya smooth. Semuanya happy. Sampai mereka lagi berlibur bareng ke Vermont. Di situ si Ben mabuk dan mulai ngoceh-ngoceh yang nyentil si Jason sama Julie tentang hubungan aneh mereka dan gimana nanti masa depan si Joe. Di situ Jason marah banget sama Ben dan kemudian mereka berdebat. Ben sendiri akhirnya juga pisah sama Missy. Alasannya karena sejak punya anak spark di antara mereka udah ilang.

Julie kemudian sadar kalau dia cinta sama Jason di saat Kurt mau ngenalin dia ke anak-anaknya. Tapi ternyata Jason ngga punya perasaan yang sama, bahkan dia dan Mary Jane udah move in together. Julie double patah hatinya. Dia pisah sama Kurt dan juga ngga berbalas sama Jason. Dia akhirnya pindah dari Manhattan ke Brooklyn dan membesarkan Joe di sana. Ya pokoknya singkatnya si Jason dan Mary Jane akhirnya putus karena Mary Jane ngga punya passion ke anak dan Jason akhirnya sadar kalau orang yang paling tepat buat dia adalah Julie. Kemudian mereka akhirnya sama-sama. A classic happy ending.

Ya sebenernya ceritanya bisa ditebak sih. Cuma yang rada nyentil gue adalah betapa seorang anak bisa dengan drastis ngerubah hubungan suami dan istri. Padahal suami atau istri itu kan orang yang kita pilih di antara jutaan orang lain di dunia ini buat jadi pasangan kita. Sedangkan anak itu kan ‘cuma’ orang baru di antara kita?

Mungkin dengan adanya anak, prioritas kita bukan lagi cuma ke pasangan. Kita harus ‘berbagi’ rasa sayang, peduli, dan juga waktu. Adanya anak apalagi kalo masih kecil itu akan sangat menyita waktu kita berdua. Mungkin ngga sebebas waktu pacaran dulu kalo mau pergi nonton atau makan ke luar. Mungkin akan ada ‘makhluk asing’ yang akan tidur di antara kita dan kita ngga akan bebas ndusel-ndusel lagi sama pasangan. Akan ada yang gelendotan terus sama kita karena memang hidupnya ya masih 99.9% tergantung sama kita.

Terus gimana? Apa gue mau punya anak? Ya jelas maolaaaah. Mau, mau, mau banget. Kapan? Secepetnya setelah nikah? Hmmm, to be honest, gue sih pengennya ‘pacaran’ dulu abis nikah. Buat masa adaptasi laaah. Tapi kalo Abi pengen cepet punya bocah, katanya ngapain nunda, zzz. Liat nanti deh!

Mungkin pelajaran yang perlu banget diambil adalah segimanapun besar sama berapi-apinya kita cinta sama orang, cinta itu tetep perlu dipupuk biar terus hidup. Ini juga pelajaran banget buat gue. Gue sangat sayang Abi dan itu bisa bikin gue yakin untuk mau nikah sama dia. Tapi apa sayang yang gue punya sekarang udah cukup buat bikin gue tahan ngehadepin ke-annoying-annya dia seumur hidup? Pengennya sih iya, cuma kan belum tentu. Semoga juga nanti dengan adanya para Abi dan Ayas Junior justru ngebuat papa mamanya makin deket dan saling sayang. Harusnya anak itu kan jadi penguat dari ikatan kita, bukan justru yang ngebuatnya longgar. Semoga juga dengan adanya bocah-bocah nantinya ngga ngebuat kita kehilangan our time. Yang cemen-cemen aja juga udah buat seneng. Nonton bareng, makan di luar bareng, atau cuma ngegosipin temen ngga jelas, hahaha.

This 9 years have been a very wonderful yet amazing journey for us. But we surely need more spark to have a blissful-life-time-journey.

Besok Sabtu mau kencan. Yeay!

 

 

Monday Morning Blues

Selamat Hari Kejepit Nasional…buat yang merayakan!

 

Pagi ini gue lalui seperti biasa. Bangun tidur ngga langsung bergerak. Bermalasan dulu. Guling-guling dulu. Bukain para hape dulu. Any excuses for staying longer on my bed.

Kemudian gue buka Path dan ada post dari Habibi, temen gue. Di situ dia post tentang kawinan yang dia handle. Habibi ini punya usaha catering sekaligus wedding organizer di Jogja. Bukan pertama kali dia post tentang kawinan yang dia handle. Ini juga bukan post kawinan pertama yang gue liat di Path, secara kemaren tanggalnya lumayan cantik yaa. Tapi post kali ini menarik buat gue karena yang menikah adalah Habibi menulis kalau yang menikah ini adalah seorang perempuan yang luar biasa. Apanya? Gue ngga langsung ngeh. Sekilas di foto biasa aja. Kemudian gue click and zoom fotonya. Gue perhatiin bener-bener. Then I realize that the bride has no arms, which I didn’t notice before since she looked as pretty as any other bride.

Gue juga kemudian buka Twitter dan ada beberapa tweet tentang nikahan itu yang kebanyakan di re-tweet dari account @saptuari. Gue lalu turut stalking timeline @saptuari dan sepenangkapan gue, Mas Saptuari ini adalah orang yang punya andil di gerakan Sedekah Rombongan. Di tweets-nya diceritakan kalau perempuan ‘luar biasa’ itu namanya Mbak Putri Herlina. Dia sejak kecil sudah ‘dititipkan’ di Panti Asuhan Sayap Ibu Yogyakarta. I think you may know what I mean with the word ‘dititipkan’ yaa?

Gue sendiri tau tentang Sayap Ibu waktu gue di Jogja. Di situ memang banyak anak yang mungkin ngga seberuntung orang kebanyakan. Banyak yang ditinggalkan begitu saja di panti itu oleh entah siapa. Banyak yang ditinggalkan dalam keadaan fisik dan mental yang kurang sempurna. Dugaannya sih si ibu hamil berusaha menggugurkan kandungannya dan gagal, kemudian anaknya lahir kurang sempurna. Astagfirullahaladzim. Begitu tega ya mereka. Padahal janinnya kan ngga minta buat ada di rahimnya. Padahal begitu banyak perempuan lain yang mau dapat rezeki seperti mereka itu. Begitu juga nasib Mbak Putri. Sejak lahir ada di Sayap Ibu dan tidak tau siapa kedua orang tuanya.

Gue sendiri belum pernah ketemu dan kenal dengan Mbak Putri. Tapi gue liat di foto, Subhanallah, orangnya cantik. Begitu adilnya Allah, diselipkan kelebihan di antara kekurangan yang diciptakan-Nya. Gue juga baca blog Mas Saptuari tentang pertemuan pertamanya dengan Mbak Putri. Here’s the link, go read by your self: http://saptuari.blogspot.com/2011/06/putri-herlina.html?m=1

Gue baca dan gue terharu. Juga malu. Di balik semua kekurangannya, Mbak Putri ngga pernah merasa kekurangan, rendah diri, malas, manja, dan ingin dikasihani. Mbak Putri lulus dari SMP dan SMA umum. Mbak Putri belajar untuk menulis dan melakukan hal-hal lain dengan kakinya. Mbak Putri tetap mandiri dengan segala kekurangannya bahkan sekarang menjadi staf administrasi di Sayap Ibu, membantu adik-adiknya yang juga kurang beruntung.

Dengan kekurangan fisiknya yang dapat dikatakan besar, tidak membuat Mbak Putri tidak bisa melakukan banyak hal. Mbak Putri ngga mengeluh atau meratap. Mbak Putri berusaha hidup senormal mungkin. Di sini gue malu banget. Gue seharusnya sangat bersyukur, Alhamdulillah banget punya fisik yang utuh, keluarga yang selalu ada dan sayang sama gue. Mbak Putri ngga punya tangan-tangan untuk kehidupan sehari-harinya, tapi dia tetep bersyukur dan semangat menjalani kehidupan. Gue? Ada jerawat gede sedikit aja langsung panik dan moody seharian berasa besok kiamat.

Memang Allah luar biasa adil, di balik semua kekurangan ada kelebihan yang besar. Allah tidak akan memberi kita cobaan di luar kemampuan kita. Mungkin di sini Allah menilai Mbak Putri lebih tinggi dari kebanyakan umat-Nya. Menilai Mbak Putri punya kekuatan untuk hidup dengan cobaan-Nya itu. Gue sendiri pastinya belum setinggi, semampu, dan sekuat Mbak Putri. Ya Allah, tolong jauhkan hamba dari cobaan-Mu yang terlalu besar untukku. Tolong jauhkan tanpa membuatku jauh dari-Mu.

Gue kemudian lanjut baca tweets Mas Saptuari. Ternyata laki-laki hebat yang menikahi Mbak Putri adalah Mas Reza, dia adalah putra dari seorang deputi gubernur Bank Indonesia. Subhanallah, setiap orang punya rezeki masing-masing yaa. Mbak Putri dengan segala kekurangannya dipertemukan dan dijodohkan dengan seorang yang baik dan hebat. Diberikan keluarga baru yang mampu menjaga Mbak Putri.

 

Screenshot_2013-10-14-07-34-26-1

Mbak Putri dan Mas Reza

Screenshot_2013-10-14-07-33-32-1

Mbak Putri dan Mas Reza saat sungkeman

Screenshot_2013-10-14-07-34-06-1

Mas Reza menuntun Mbak Putri

Screenshot_2013-10-14-07-33-56-1

Screenshot_2013-10-14-07-33-49-1

Mbak Putri dengan adik-adiknya dari Sayap Ibu

Sekarang Mbak Putri ngga sendiri lagi. Ada suami dan keluarga baru yang semoga selalu ada buat Mbak Putri. Baru kali ini gue super sangat tulus mendoakan orang yang menikah. Biasanya gue mendoakan dengan embel-embel comment acara nikahannya. Sekarang gue bener-bener ikut seneng dan berdoa semoga Mbak Putri, Mas Reza, dan keluarga selalu rukun dan bahagia, selalu dalam lindungan Allah. Amin.

Monday morning blues ini namanya. Sebuah cerita yang cetar buat gue di pagi hari. Menampar gue yang kadang lupa untuk bersyukur atas apa yang gue punya. Mengingatkan gue untuk mendahulukan bersyukur sebelum meminta sesuatu di setiap doa setelah solat gue. Gue yakin ada banyak Mbak Putri-Mbak Putri lain di luar sana. Semoga Mbak Putri-Mbak Putri lain juga seberuntung Mbak Putri Herlina ini.

Thank you untuk Habibi dan Mas Saptuari yang sudah berbagi cerita.

Jadiii.. yang ngga libur di hari kejepit ini ngga boleh ngomel-ngomel lagi dong yaa. Harusnya bersyukur masih ada kerjaan untuk dikerjain kan yaa?

*senggol Abi*

 

Have a good holiday you all!