Wedding Case #5: The Invitation

Dulu setiap papamama gue nerima undangan pernikahan, gue selalu ‘nilai’ undangannya. Bagus ngga desainnya, bagus ngga kertasnya, bagus ngga tulisannya, dll. Gue beserta papamama juga dari dulu pengen kalo nantinya gue nikah undangannya harus bagus dan keren.

Tapinyaaa gue semakin lama semakin sadar kalo sebagus-bagusnya undangan nikah bakal berakhir di tempat sampah. Kecuali yang modelnya bisa dimanfaatin kaya undangan model kipas, photo frame, atau apa gitu. Kecuali juga yang diundang lagi mau nyontek model undangan buat kawinannya sendiri. Selebihnya? Hello, trash bin!

Akhirnya gue berniat kalo bikin undangan ngga usah yang lebay bagusnya. Kaya ada temen papa yang undangan nikahnya pake cover beludru, ada juga yang pake hiasan mutiara gitu, atau pake gembok emas segala macem.

Tapi tetep aja gue punya standar minimal lah buat undangan gue. Secara nanti sebagian super besar tamu undangan adalah temen-temen papa mama. Kalo temen gue sih pake Facebook atau e-invitation aja yak, hihi. Undangan yang gue buat itu tipe hardcover yang jelas. Dibuat yang simple, manis, ngga norak, dan ngga berlebihan.

Buat warna, gue sepertinya bakal milih warna broken white atau abu-abu. Kesannya simple dan manis. Mungkin juga bakal ada aksen warna merah maroon sama cokelat atau navy blue. Pokoknya yang ngga terlalu menyilaukan matalah haha. Sebenernya bagus juga lho warna kaya turquoise atau lime green. Tapi ngga lulus ACC papamama soalnya katanya terlalu ‘lucu’. Yowessss warna yang disepakati bersama ya yang tadi itu.

Gue browsing dan nemu beberapa model yang gue suka…

image

image

image

image

image

Manis-manis kaaaan? Itu ada sih yang contohnya pake softcover dan gue nanti pakenya hardcover. Itu mutlak pesenannya papamama, katanya biar dipegangnya mantapssss.

Baiklah, jadi gue udah punya model dan sekarang mesti survey on the spot. Buru-buru amet yas kan masih lama? Gue dan Abi maunya semua printilan sebisa mungkin selesei secepetnya. Bahkan untuk undangan atau souvenir. Mendingan nongkrong di rumah dan hati kita adem dibanding mesennya nanti-nanti dan kita ketar-ketir nungguin kapan jadinya. Kita pengennya menjelang hari H kita lebih nyiapin diri dan lebih santai biar pas dipajang muka kita lebih asoy. Hahaha. Orientasinya itu.

Buat tempat pembuatan kayanya gue bakal menuju Pasar Tebet. Harganya kan bersahabat. Banyak juga tempat yang recommend.

Semangaaaat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s